Awalnya negara teroris Israel meyakini bahwa Amerika Serikat akan mendukung resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB soal penghentian serangan di Gaza pada Kamis pekan lalu. Namun akhirnya AS abstain.
Dalam pidatonya di selatan kota Ashkelon Israel, Senin kemarin, Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Condoleeza Rice sudah dibuat malu oleh Presiden Amerika Seriat, George W Bush karena tidak memberikan dukungan terhadap resolusi itu dan hanya memilih abstain.
Saat itu, sebanyak 14 dari 15 negara anggota Dewan Kemanan PBB mendukung resolusi yang salah satu poinnya berisi gencatan senjata pihak yang bertikai sesegera mungkin. Namun AS memilih abstain sebagai bentuk dukungannya kepada negara teroris Israel.
Olmert tidak ingin Rice memberikan suara dukungan terhadap resolusi 1860 itu. "Saya minta bicara dengan Bush melalui telepon. Kata petugas, Bush sedang memberikan pidato di Philadelphia. Tak peduli, saya ingin bicara dengan Bush sekarang. Kemudian Bush turun podium dan segera menerima teleponnya," kata Olmert seperti dikutip Telegraph.uk, Selasa (13/1/2009).
Dalam telepon itu, Olmert mengatakan kepada Bush bahwa AS tidak boleh mendukung resolusi semacam itu. Kemudian Bush segera menghubungi Rice untuk tidak memberikan suara dukungan pada resolusi itu. Abstain merupakan jalan tengah yang aman. AS tidak kehilangan muka di hadapan negara lain, sementara hubungan dengan Israel tetap terjaga dan mesra.
Bush memang kerap menunjukkan pembelaan kepada Israel yang jelas-jelas sebagai teroris dunia. pada pidato perpisahannya Senin kemarin, Bush justru menekan mujahidin Hamas untuk menghentikan serangan ke Israel.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar